Peringati Hari Bhayangkara ke-79, Polres Kudus gelar pengajian umum  

Ribuan warga Kabupaten Kudus dan Kabupaten di sekitar memadati kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus Jawa Tengah untuk mengikuti pengajian umum dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Kamis (17/7) malam. 

Update: 2025-07-18 15:02 GMT
Sumber foto: Sutini/elshinta.com.

Elshinta.com - Ribuan warga Kabupaten Kudus dan Kabupaten di sekitar memadati kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus Jawa Tengah untuk mengikuti pengajian umum dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Kamis (17/7) malam. 

Sejak siang hari, ribuan jamaah dari berbagai penjuru Kabupaten Kudus bahkan luar daerah mulai berdatangan, menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyambut momen spiritual ini.

Acara bertemakan “Polri untuk Masyarakat” tersebut dihadiri oleh unsur Forkopimda Kabupaten Kudus, tokoh agama, para ulama, tamu undangan, serta masyarakat umum. KH. Anwar Zahid, penceramah asal Bojonegoro yang dikenal dengan gaya ceramahnya yang lucu namun sarat makna, didaulat menjadi pengisi tausiyah utama.

Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo, menyampaikan bahwa Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen pengabdian Polri kepada masyarakat.

“Peringatan Hari Bhayangkara ke-79 tahun ini mengusung tema ‘Polri untuk Masyarakat’, sebagai wujud komitmen kami dalam memperkuat peran sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Polri tidak hanya hadir dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai bagian dari umat, ikut bersujud, bershalawat, dan bersatu dalam kebersamaan umat Islam,” katanya. 

Kapolres menegaskan bahwa keberadaan Polres Kudus di tengah masyarakat tak hanya untuk menjaga keamanan, namun juga berperan aktif dalam merawat nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.

Ia juga mengapresiasi Majelis Sholawat Gandrung Nabi, yang turut menyemarakkan suasana malam dengan lantunan sholawat yang menggema syahdu di tengah kota.

KH. Anwar Zahid dalam ceramahnya menyampaikan pesan-pesan kebangsaan yang dibalut nilai-nilai agama serta menekankan pentingnya menjalankan profesi sebagai bentuk ibadah dan sarana berprestasi. Menurutnya, prestasi tertinggi dalam hidup adalah ketakwaan.

Kemudian mengingatkan jemaah untuk selalu bersyukur atas profesi yang dijalani saat ini. Ia menyampaikan bahwa apa yang kita cintai belum tentu baik untuk kita, dan yang tidak kita inginkan bisa jadi membawa kebaikan besar.

”Ada hal yang tidak bisa diselesaikan polisi, tapi bisa oleh ulama. Begitu juga sebaliknya. Maka sinergi itu kunci,” katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Jumat (18/7). 

Ia menggambarkan pentingnya kekompakan dengan perumpamaan sederhana. Sinergi itu layaknya jari tangan yang kompak bergerak bersama.

”Kalau semua jari kompak, maka apa pun bisa dipegangi. Tapi kalau cuma jempol dan kelingking yang kompak, ya repot,” tuturnya disambut tepuk tangan hadirin.

Salah satu jamaah, Sintha asal Jepara, mengaku bahagia bisa mengikuti acara pengajian tersebut. Ia datang sejak sore bersama rombongan majelis taklim di desanya. 

Tags:    

Similar News